Awal Agustus 2011 ada berita dari Iran. Seorang perempuan cantik yang
disiram cairan asam hingga wajahnya rusak dan matanya buta mengampuni si
pelaku. Perempuan itu adalah Ameneh Bahrami, kelahiran Iran tahun 1978, yang
disiram Majid Movahedi pada tahun 2004 karena ditolak pinangannya.
Movahedi kemudian ditahan sambil menunggu hukuman qisas, yaitu hukuman
yang berprinsip dengan pembalasan yang setimpal, semacam hukuman "nyawa
bayar nyawa". Dalam kasus Bahrami, ia boleh meminta pengadilan untuk
membutakan mata pelaku seperti yang dialaminya.
Pengadilan memutuskan hukum qisas dilakukan pada 31 Juli 2011 dan
disiarkan secara langsung oleh televisi. Beberapa detik sebelum cairan
asam disiramkan pada mata Movahedi, dokter yang akan menyiramkan cairan
itu bertanya pada Bahrami, "Apa yang ingin Anda lakukan sekarang?"
Movahedi sudah menangis sejadi-jadinya sambil berlutut. Ketakutan akan
matanya buta dan bayangan rasa sakit yang tiada tara membuat ia
memohon-mohon ampun. Semua orang tegang menyaksikannya. Satu aba-aba
dari Bahrami maka proses hukuman qisas itu akan dilaksanakan. Namun
Bahrami ternyata mengucapkan kata-kata di luar dugaan. "Saya
memaafkannya, saya memaafkannya," jawab Bahrami. Maka mata si pelaku pun
selamat.
Sungguh mulia sikap Bahrami, ia berani mengampuni orang yang telah
membuatnya buta sepanjang hidupnya. "Yang terbaik ialah memaafkan ketika
kita berada pada posisi berkuasa," kata Bahrami menjelaskan
keputusannya. Tetapi ada ucapan ibu Bahrami yang patut kita simak.
Katanya, "Pengampunan ini akan menenangkan Bahrami dan keluarga kami."
Sahabat yang Luar Biasa,
Memaafkan memang tidak mudah. Tetapi memaafkan bisa menenangkan kita.
Sebaliknya, membalas dendam belum tentu menghilangkan kebencian. Mungkin
justru akan tumbuh rasa bersalah di dalam diri kita karena setelah
pembalasan dendam itu kita merasa sama jahatnya dengan mereka yang telah
membuat kita menderita.
Secara ilmiah pun memaafkan atau mengampuni orang lain memiliki nilai
positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memendam dendam
dan memelihara kebencian, hidupnya tidak tenang. Secara medis mereka
memiliki denyut nadi lebih tinggi (tidak sehat), tekanan darah tinggi
dan otot-otot menegang. Jika dibiarkan terus mereka bisa terkena
serangan jantung. Sebaliknya, mereka yang mau memaafkan orang lain,
tekanan darahnya normal, kerja jantung normal dan otot-ototnya rileks.
Pendeknya, seorang pemaaf memiliki catatan kesehatan lebih baik.
Penelitian itu menunjukkan bahwa "memaafkan orang lain" tak hanya baik
bagi kesehatan jiwa, tetapi baik pula untuk kesehatan jasmani kita.
Karena itu, mari kita buka pintu maaf. Tak ada ruginya memaafkan orang
lain, bahkan kita mendapatkan manfaat yang tiada terkira.
Berani Memaafkan Orang Lain
Written By Anwar's_Blog on Rabu, 05 Oktober 2011 | 20.43
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.

0 comments:
Posting Komentar